23 agustus 2009, anakku aini asari gusti (mata yang mempunyai kemampuan untuk melihat- ainul basyiroh) merayakan ultahnya ke 4.
ulang tahun kali ini aini (ini-panggilan akrabnya, sebuah petunjuk yang sangat dekat sehingga tidak perlu disebutkan), hanya meminta 1 hadiah dari bapak-ibunya, yaitu kue ulang tahun yang ada lilin untuk ditiup.
tanggal 22 agustus sore kami bertiga 'hunting' mencari roti yang di inginkan ini.
sebuah roti mungil berwarna pink, warna kesukaan aini.
sebenarnya, sore itu belum masuk waktu kelahiran aini- karena ini dilahirkan pada 23 agustus 2005 pada jam 00.30,- tetapi karena ini sudah merengek untuk meniup dan makan roti-bersamaan dengan bapak-ibunya yang berbuka, maka kami penuhi keinginannya untuk merayakan ultah pada 22 agustus pas berbuka puasa.
kue berhasil disiapkan, tetapi hanya ada 2 lilin besar-yang digunakan jika listrik mati.
penuh hikmat, dan do'a kecil 'semoga bapak dan ibu tidak suka marah-marah lagi' lilin berhasil ditiup dengan penuh keharuan dariku,mei-istriku dan aini.
ada pesan yang besar bagi aku dan mei sebagai orang tuanya. pemaknaan tiup lilin dalam sebuah acara ultah. acara perayaan ulang tahun dan tiup lilin memang bukan budaya yang islami, tetapi jika dimaknai secara bebas, aku menangkap pesan yang mendalam.
tiup lilin, setiap bertambah umur maka demikian pula jumlah lilin yang ditiup.
dan acara klimak dari ultah adalah peniupan lilin yang sesuai dengan jumlah umur yang ultah.
berapapun lilinnya acara ultah harus diakhiri oleh peniupan lilin, dan riuh-riang kegembiraan setelah itu.
jika lilin merupakan simbol umur kita, lalu apakah nantinya kita dapat mengakhiri 'meniup umur kita' dengan riang gembira.
amin, semoga kami ber-dua dapat memenuhi amanah titipan Allah dengan baek dan selalu mensabarkan diri kami dan aini untuk sadar bahwa 'lilin kehidupan' akan tertiup dan mati, dan semoga tercipta suasana gembira di saat terakhir itu dan berikutnya.
inna lillahi wa innna illahi rojiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar