Selasa, 12 September 2017

About STUPIDY

the big aim of this club self engineering leadership, 

I know who I am,
I know what I want,
I know to reach my dream....

means that every one has own potency, -this potency is unique, every one has the same opportunity to success.

The most important thing is knowing this potency and using it for improving life him self and surrounding. It is because, the unique potency cannot be improved in the same pool.

The high score of study neglect the other personal skill to apply the ability is useless. 
so then, this club commited to take and give each other for gaining the better condition with the emotional friendship, not transactional.

If do you want to get:
1. High score Study (IPK).
2. Graduate on time.
3. True friend, also senior connection.
4. Any skill to improve
5. etc,
and you have a dream, but you don't want to be a zero dreamer

Just bring your dream to us,
then we will reach our dream together

NEXT MEETING:
Date : Thursday, September 28th, 2017 time : 07.30PM
Place : My sweet home, Perum Anugerah 1A, Ngijo, Gunungpati...behind Muntal Gas Station
Agenda : Book exploration 'the magic of thinking big' by Mr. Agam and Mr. Azhari.

Please regress your attend to : 0818456109 (via WA), due date 2 days before meeting.
See You In the Stupidy's World,

Regards

Mr. Dony

Selasa, 22 Agustus 2017

Stupidy Meeting Announcement

TO Dear stupidy candidate,
If you want to learn more then your lecturer, please come to our meeting:
Date : Thursday, September 7th, 2017 time : 07.30PM
Place : My sweet home, Perum Anugerah 1A, Ngijo, Gunungpati...behind Muntal Gas Station
Address
 Agenda : Exploration Idea.
Please regress your attend to : 0818456109, due date 2 days before meeting.
 See You In the Stupidy World,

Regards

Mr. Dony

Jumat, 24 Februari 2017

Link and Match

Guru itu sumber?


hubungan masyarakat dan dunia akademik selayaknya bagaikan PROBLEM-SOLVER...

so, gak ada guru yang duduk dikursi gading dengan statement
'ANTARA PRAKTEK DAN TEORI ITU BEDA!!!'

karena seorang guru mempunyai peran ganda:
TEACH and TOUCH

guru mengajarkan siswanya bagaimana menyelesaikan persoalan tidak hanya soal
guru mengajarkan siswanya bagaimana hidup didunia nyata, tidak hidup yang terinkubasi

sehingga guru akademik bisa berperan pula guru masyarakatnya...:)

Atas Nama sebuah Judul

Mencari Judul


teringat disuatu waktu, seorang mahasiswa (m) dengan wajah memelas menemui saya (s)...
dan dengan jujur, dan tulus menyapa saya:

m: maaf pak dony, apakah bapak bisa saya loby?

dan dengan jujur, dan tulus serta tersipu malu saya jawab:

s: tentu saja mas.....t i d a k

m: o, ya sudah pak, saya pamit....
s: yuuuk, mariiiii....

apakah ini hasil pendidikan yang runtut ya?
semua harus mulai dari judul?
dan bahkan, bisa jadi saling debat, sikat, jilat hanya karena judul...

eeeeh, lupa tujuan dari judul itu hanya untuk identifikasi masalah...
sedang, masalah adalah masalah, yang kadang hanya perlu dinikmati...

Bahasa "R"

teringat sebuah cerita dari Pak Andi Dahman....

disuatu saat, disuatu tempat....
seorang gadis berparas cantik, sayang cadel...
suatu saat, dia beli gorengan...dan terjadilah percakapan berikut:
gadis cantik (gc) : bang, beli golengan lima libu...
bakul gorengan (bg): golengan..lima libu.hihihi (sambil mengejek)
gc :(sebel, dah diejek sama bg...but, bg nya ganteng juga)...

mulai sore itu, selama beberapa hari gc berusaha keras untuk dapat mengucap G O R E N G A N dengan benar. dan diapun berhasil. dicobanya untuk membeli gorengan untuk kali yang kedua...

gc: bang, beli gorrrengan...5 buah aja...
bg: uih, si eneng sekarang dah lancar ngomong gorengan...seneng saya mendengarnya. sebagai rasa syukur saya, ini saya berikan minuman...pengen es teh atau es jeruk?
gc: es jeluk bang...makasih
bg: kapan-kapan kesini lagi ya non, dan sudah bisa es jerrrruk...hihihhi
gc: awwwwwas kamu ya!!!! tunggu pembelasanku!!!!

gc adalah seorang murid...dan bg adalah guru....
gc sudah berusaha untuk memperbaiki diri dengan belajar mengucap GORENGAN. sayang, metode belajarnya belum begitu tepat, karenanya sebenarnya yang diperlukan olehnya adalah mengucap 'R' dengan benar maka semua kata yang menggunakan R, akan terucap dengan benar.
sayang, bg pun tidak berhasil memberikan 'clue' pembelajarannya...dan, bukanlah terima kasih yang diterimanya, malah 'awwwwwas kamu ya!!!! tunggu pembelasanku!!!!' karena yang ditanggap hanyalah 'godaanya, cemoohanyya'...

begitu pula saat belajar di sekolah, guru kita hanya mencontohkan banyak hal, dengan berbagai media, banyak soal untuk dikerjakan...dan kita akhirnya lulus mengerjakan semua soal itu

TAPI apakah semua soal itu akan 100% sama dengan persoalan dilapangan?...bagai masakan yang siap untuk disantap dikala lapar, sebagai solusi seluruh persoalan hidup?....

SAYANGNYA atau UNTUNGNYA, guru kita bukanlah programmer...dan kita bukanlah robot yang hanya siap diprogram...

so, temukan 'R' itu dalam diri kita pada ilmu yang telah kita dapatkan...dan pengucapan 'R' akan bermacam-macam, karena murid pak guru tidak hanya kita tapi juga teman-teman sepencarian...

dan, kalo sudah ketemu 'R' itu, diskusikan dengan teman-teman yang lain...agar 'R' kita dapat memberi dan diberi warna bagi teman-teman sekitar kita...dan untuk kita...

selamat menemukan 'R'..

Cita-Cita, antara impian dan kenyataan

Oleh : Dony H. Al-Janan
Penulis

Ilustrasi
Amin, seorang anak yang waktu itu duduk di kelas 1, ditanya oleh gurunya tentang cita-citanya ,Amin menjawab : ingin menjadi habibi supaya bisa membuat kapal terbang.
Waktu berlanjut ketika Amin masuk kelas 1 smp, dengan pertanyaan yang sama, amin menjawab..aku ingin menjadi polisi, supaya bisa mengangkap penjahat.
Masuk kelas 1 sma, dengan pertanyaan yang sama pula, aku ingin masuk perguruan tinggi, dan menjadi manusia yang bermanfaat.
Masuk semester 1 sebuah universitas, aku malu untuk mengutarakan cita-citaku.
Dan terakhir di semester akhir, amin hanya punya 1 tujuan yaitu menyelesaikan skripsinya, tidak tahu apa yang ia inginkan berikutnya. Harapan dia hanya 1, semoga dia dapat mengaminkan apa yang terjadi padanya.

Semisal hidup ini merupakan kerja yang kita lakukan untuk mencari uang, maka akan baik jika terlebih dulu menrencanakan untuk apa uang yang kita dapatkan nanti? Sehingga ketika kita bekerja bukan hanya tekonsentrasi untuk mencari uang, tetapi uang hanyalah bagian untuk mencapai cita-cita kita yaitu kebahagian dunia dan akhirat.

Apa itu cita-cita
Amin adalah contoh kecil dalam kehidupan kita, mungkin saja dia adalah diri kita sendiri. Sering kali kita menanyakan cita-cita, sering kali pula kita menganggap hal itu hanyalah impian anak-anak belaka. Tersimpulkan bahwa seolah cita-cita hanyalah angan-angan kosong tanpa tindak lanjut.
Cita-cita yang berubah, tentunya hal lumprah terkait dengan perubahan, pengalaman, ilmu yang kita miliki. Yang menjadi penting bukan cita-cita kita, tapi kesadaran kita untuk memilih, menentukan cita-cita kita tentunya menuju kebahagian dunia-akhirat.
Menggapai kebahagian, adalah manusiawi. Dalam islam-pun hal itu tidak dilarang, malah harus diperjuangkan. Yang menjadi permasalahan terkadang kita, sebagai orang islam enggan mengungkapkan cita-cita kita, dengan alasan hal itu akan merubah ‘kiblat hati’ kita dari Allah swt, kepada keduniaan belaka???

Mengapa cita-cita sering berubah?
Manusia akan dihadapkan pada kompleksitas masalah yang berbeda. Waktu kita lahir, masalah kita hanyalah bagaimana kita mendapatkan susu ibu, saat sekolah berkembang agar kita lulus dengan baik, remaja- bagaimana mendapatkan kerja dan menjalin komitmen dengan pasangan.
Perubahan inilah yang menjadikan cita-cita kita sering berubah.

Buat apa cita-cita
Cita-cita diperlukan untuk mengarahkan hidup kita mencapai hal yang kita inginkan dengan efektif dan efisien. Selaksa orang yang mengendarai sepeda ontel, jika potensi untuk mengayuh ibarat jiwa dan sepeda adalah badan, jasadi kita ,yang diperlukan pertama kali adalah tujuan. Jika kita mengendarai sepeda tanpa tujuan, apa yang terjadi???? Dapat terjadi sepeda itu jatuh karena kebingungan untuk mengarahkan haluan.

Bagaimana mencapai cita-cita
Untuk mencapai cita-cita memerlukan tahapan :
  1. Jujur dengan diri sendiri, untuk menilai diri apa adanya
Melalui refleksi, solat bagi orang Islam, kita berkaca pada diri sendiri :
Siapa kita? How am I ?
Ini adalah wujud rasa syukur kita, syukur berarti membuka,, membuka semua potensi yang ada dalam diri kita dan keinginan untuk memanfatkan semaksimal mungkin.

Apa kelebihan kita? strengh
Apa kekurangan kita? Weaknes
Apa peluang kita kita ? Opportunity
Apa ancaman kita? Treath
  1. Menyusun rencana
Rencana mulai disusun dari tahap akhir, sebagai muslim kita ingin mati masuk surga. Tapi harus diingat bahwa kita selama hidup diberi titipan amanat ‘potensi yang ada pada tubuh kita’ yang memerlukan makanan, minuman, dan juga perlu dimanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh umat.
Dalam konsep islam dikenal dengan kesejahteraan di dunia dan akhirat, bahagia dunia akhirat. Sehingga kebahagian di dunia harus diupayakan dengan cara-cara yang baik (agama), benar (sains), dan indah (seni) sehingga jika kita telah mengupayakannya dengan maksimal, sebagai implikasi dari rasa syukur kita maka jika kita mati nanti juga akan menuai kebahagiaan, bukan hanya karena cita-cita kita diupayakan tetapi dengan itu kita juga mampu membahagiakan sekitar kita.
Rencana disusun mulai dari akhir, kemudian bertahap menuju kepada saat yang kita alami sekarang. Sehingga kita tidak lagi bingung tentang pada yang akan kita lakukan detik ini.
Kegiatan yang kita lakukan detik ini merupakan rangkaian perjalanan panjang yang harus kita lewati untuk mencapai cita-cita kita bertahun-tahun kemudian.
Rencana yang kita susun sudah sepatutnya disesuaikan dengan lingkungan, jika lingkungan belum mendukung, maka perbaikan lingkungan perlu ada dalam agenda rencana kita, tentunya sesuai dengan analisa SWOT yang kita lakukan.
  1. Lakukan evaluasi
Evaluasi senantiasa kita perlukan untuk menampatkan garis cita-cita kita, selain itu sebagai alat indikator langkah menuju cita-cita kita. Apakah cita-cita kita masih layak untuk diperjuangkan? Dan bagaimana caranya?
  1. Bersabar dalam kesadaran
Bersabar, bukan berarti diam, tetapi senantiasa bergerak dengan istiqomah menuju cita-cita yang kita inginkan. Hal ini diperlukan kesadaran penuh, jangan sampai cita-cita kita benar-benar mengendalikan kita sehingga kita sendiri tidak mampu menikmati apa yang telah kita peroleh.

Do’a vs cita-cita
Waktu kita solat, berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan syarat-syaratnya. Mulai dari wudlu, kebersihan tempat ibadah dan memandang ke arah kiblat.
Solat merupakan contoh sinergissitas antara oryentasi fisik dan non fisik. Itu makanya dalam solat kita masih memerlukan hal-hal fisik seperti bersuci, berdo’a menjalankan gerakan solat.
Doa’ sangat perlukan oleh orang yang mempunyai cita-cita. Karena do’a merupakan wujud keyakinan akan keterbatasan diri, upaya untuk lebih mengerti akan jati diri dan akhirnya dapat memanfaatkannnya dengan optimal. Proses pemanfaatan diri ini tidak dapat berjalan dengan optimal tanpa proses pengenalan terhadap diri.



Bagaimana esensi dari solat?
Solat jika mampu dilakukan dalam keadaan berdiri, atau duduk, atau tidur, atau isyarat, atau disolatkan. Jadi solat merupakan kewajiban fisik kita sebagai manussia yang hidup hingga akhir hayat. Dari keserhanaan, dalam menjalankan solat ini tersimpulkan bahwa gerakan bukan merupakan tujuan akhir dari sholat, tetapi ketika minimal gerakan hati seorang hamba yang  dberupaya untuk mendekati Tuhannya, dan ‘meniru’ sifat-Nya sehingga dapat mengakhiri proses pendekatan itu dengan melakukan salam, menebar kesejahteraan, mengoptimalkan potensi yang telah diberikan untuk melakukan aksi perbaikan terhadap diri dan lingkungan sekitarnya.

Penutup
Tak ada kata terlambat untuk memulai suatu perbaikan diri. Mengutip dari AA Gym
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil ,mulai sekarang.


Wallahu a’lam bissowab

REPOSISI INTERNAL KAMPUS

Sebuah tinjauan kritis

Mahasiswa sebagai free thinkers

       
Penulis

Membicarakan tentang mahasiswa, mengingatkan kita akan eforia yang telah ditorehkan kelompok ini dalam sejarah Indonesia. Sejarah telah menuliskan, peristiwa besar pembubaran PKI ‘66, Tanjung priok ’87, hingga reformasi ’98 telah membuktikan peran mahasiswa sebagai kelompok pemikir pembaharu sudah tidak diragukan lagi.
        Sebagai seorang pembelajar posisi mahasiswa haruslah netral, dan hanya berpihak kepada kebenaran yang diyakininya, yang setiap kebenaran itu harus senantiasa direkonstruksi dengan adanya proses dialegtika dengan kebenaran yang lain. Inilah yang unik dari kemerdekaan di kampus, dinama setiap pendapat dapat dihargai baik itu yang dalam wujud oral, tulisan, karya cipta hingga demonstrasi dapat berkoloborasi, melengkapi satu sama lain dalam menciptakan proses dinamisasi kampus.
        Idealisasi kampus, sebagai kawah candra dimuka bagi seorang pemikir, pembelajar yang merdeka adalah adanya penghargaan akan pendapat. Sehingga klaim kebenaran bukan karena dari siapa sebuah pendapat muncul tapi karena kebenaran atas pendapat itu sendiri.
        Terkait dengan keberadaannya itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan pembelajaran diri untuk mengoptimalkan seluruh potensinya. Mahasiswa yang baik, tidak cukup dibuktikan dengan IPK yang tinggi, dia harus dapat mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya agar dapat berdaya guna dan berhasil guna.
Untuk mencapai ini jelas perkuliahan saja tidaklah cukup, tetapi dibutuhkan latihan yang terstruktur agar mahasiswa dapat belajar menerapkan ilmu yang ada pada dirinya dalam tataran praktis.
Jawaban atas permasalahan ini adalah organisasi. Karena melalui proses berorganisasi mahasiswa dapat belajar untuk menjadi pemimpin sebagai pimpinan, bawahan maupun sebagai diri sendiri. Dalam berorganisasi setiap mahasiswa belajar untuk dapat menghargai diri sendiri tanpa merendahkan orang lain, membenarkan suatu hal tanpa harus mengadili.
        Patut disayangkan, jika terdapat institusi pendidikan yang hanya menjadikan mahasiswa hanya sebagai obyek dari sebuah aturan yang harus ditaatinya tanpa adanya proses dialegtika, ada sebuah kehawatiran jika dalam proses belajarnya saja sudah dilakukan dengan pemaksaan tanpa pemaknaan, maka jika mahasiswa telah lulus dan menjadi pemimpin ditengah masyarakat tidak jauh dari “I am the right one”, dengan kata lain institusi seperti ini hanya akan melahirkan Hitler-Hitler baru.

Organisasi merupakan sebuah kebutuhan atau kepentingan?
        Mengingat pentingnya proses dialegtika dalam sebuah wadah organisasi itulah maka pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan bahwa setiap lembaga tinggi harus mempunyai lembaga kemahasiswa yang legal. Legal dalam arti resmi dibentuk , dibiayai, diakui, dan dibina oleh institusi.
Keberadaan organisasi internal kampus, merupakan hole package dari sebuah sistem pendidikan yang ada pada sebuah institusi pendidikan yang hendak ‘mencipta’ bukan hanya pemikir, tapi juga pemimpin yang cerdas, peduli akan lingkungannnya dan mampu mengadakan perbaikan terhadap lingkungannya.
Dari penjelasan di atas maka jelas bahwa keberadaan organisasi internal mahasiswa merupakan kebutuhan mahasiswa untuk ber’eksperimen’ mengembangkan potensi diri yang itu merupakan hak-nya pada sisi yang lain keberadaan lembaga internal mahasiswa menjadi kewajiban syarat yang harus dipenuhi institusi pendidikan, jika ingin dianggap sebagai institusi pendidikan.

Sudah sepatutnya mahasiswa (yang diwakili lembaga internal kampus, red) sebagai salah satu komponen dalam civitas akademika selalu dilibatkan dalam proses pengembangan institusi. Ibarat sebuah rumah, jika instutisi bertindak orang tua, maka mereka akan selalu mengajak anak-anak-nya terutama yang sudah dewasa (mahasiswa-red) untuk ikut memikirkan, minimal tahu permasalahan yang sedang terjadi dirumah. Jika proses harmonisasi ini dapat terjalin, menjadi keniscayaan jika setelah lulus nanti akan mempunyai kesan yang baik terhadap institusi yang mendidiknya, dan ingin selalu membantu, memberikan informasi bagi pengembangan institusi yang menerapkan pola pendidikan santun, humanis dan sangat menghargai pendapat sekalipun berbeda. Sebaliknya, jika institusi pendidikan mengajarkan kepatuhan tanpa pemahaman, kesakralan aturan tanpa proses dialegtika, maka sudah sewajarnya mahasiswa akan menjalani material target oryented, “saya hanya ingin ijazah dari institusi saya, jika ijazah telah saya dapatlahkan, maka ‘proses jual-beli’ telah selesai, ngapain saya berpikir tentang institusi saya, merekapun tak pernah melibatkan saya”. Lebih parah lagi, jika tipe lulusan yang egois semacam ini menjadi pemimpin masyarakat, apa kata dunia????

Organisasi internal kampus dimana, dan mau  kemana?
Sebagai wadah untuk mengasah optimalisasi potensi, sudah sepatutnya lembaga internal kampus tidak hanya berkonsentrasi terhadap kegiatan yang bersifat matrial mescusuar seperti : festifal band, pameran, seminar yang semua berkutat pada biayaan yang besar, waktu yang terbatas, dan kurang follow up.
Sudah saatnya lembaga internal memotori kegiatan yang bersifat membangun budaya akademis di tengah mahasiswa. Budaya ‘sholat’ (ibadah bersama-red), membaca buku, menulis, berdiskusi, meneliti merupakan kegiatan yang tidak langsung terlihat efeknya. Kegiatan kultural seperti ini memang terkesan kecil, tidak memakan biaya besar, tetapi belajar dari lumut, tumbuhan kecil yang selalu setia menempel pada tembok, tetapi jika dia (lumut-red) sabar maka tembok itu akan runtuh.

Lumut adalah budaya akademik dan tembok adalah budaya non akademik.

Meminjam istilah AA Gym, budaya akademik dapat tercipta melalui 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai sekarang,- jadi aparat organisasi internal kampus harus memulainya.
Sebagai wakil dari mahasiswa, lembaga internal kampus harus mampu menjadi ‘juru bicara’ untuk berdialog dengan institusi, sebagai anak yang berdialog dengan orang tuanya tantang hal hal yang terjadi di rumah tangga. Andai kata hal ini dapat terjadi, baiti jannati, rumahku adalah surgaku, rektorku, dekanku, dosenku adalah orang tuaku, …………institusi adalah tempat yang indah dan nyaman dileputi dengan senyuman.
Sebagai agen of change, maka sudah selayaknya organisasi internal kampus mengajak seluruh mahasiswa untuk peduli dengan lingkungannya, masyarakat dan negaranya. Kepedulian itu tercermin dengan adanya aksi yang diadakan, bukan hanya demonstrasi tetapi aksi nyata melalui sumbangan bencana, pembagian bantuan, pendidikan kepada masyarakat melalui desa bianaan, dll.
Sebagai seorang diri, seorang aktifis harus mampu bertanggungjawab kepada orang tua yang telah membiayainya untuk berekolah. Maka seorang aktifis mahasiswa harus mampu membuktikan kepada mahasiswa yang pasi organisasi bahwa dengan aktif beriorganisasi bukanlah hambatan untuk berhasil di kuliah, IP yang bagus, waktu lulus yang tepat malahan justru melatih seorang aktifis untuk dapat mengorganise diri seoptimal mungkin untuk mencapai kesuksesan kuliah maupun non perkuliahan.
Tidak ada pilihan bagi seorang aktifis, dia harus memilih organisasi dan gagal di kuliah, itu hanya sebagai pembelaan diri akan kelemahan dirinya dalam memenageman kemampuan dan potensi.

Terkait dengan kampus yang akademis, maka sudah selayaknya semua civitas akademika yang telibat didalamnya harus membudayakan dialegtika untuk menciptakan kebaikan bersama. Dalam konsep akademik, tentang kebenaran  yang tua, kaya, berpendidikan tinggi belum tentu benar, sebaliknya yang muda, miskin, berpendidg laikan rendah belum tentu salah. Sehingga semua perlu terlibat dalam situasi yang harmonis, dan menyenangkan.


Amin, semua akan lebih baik, jika kita mau mengaca dan memperbaiki diri setiap saat

Sabtu, 19 Maret 2016

this day

hari ini aku ketemu teman baru.

ceking tulisanku

Tiupan Lilin Ini

23 agustus 2009, anakku aini asari gusti (mata yang mempunyai kemampuan untuk melihat- ainul basyiroh) merayakan ultahnya ke 4.
ulang tahun kali ini aini (ini-panggilan akrabnya, sebuah petunjuk yang sangat dekat sehingga tidak perlu disebutkan), hanya meminta 1 hadiah dari bapak-ibunya, yaitu kue ulang tahun yang ada lilin untuk ditiup.
tanggal 22 agustus sore kami bertiga 'hunting' mencari roti yang di inginkan ini.
sebuah roti mungil berwarna pink, warna kesukaan aini.
sebenarnya, sore itu belum masuk waktu kelahiran aini- karena ini dilahirkan pada 23 agustus 2005 pada jam 00.30,- tetapi karena ini sudah merengek untuk meniup dan makan roti-bersamaan dengan bapak-ibunya yang berbuka, maka kami penuhi keinginannya untuk merayakan ultah pada 22 agustus pas berbuka puasa.

kue berhasil disiapkan, tetapi hanya ada 2 lilin besar-yang digunakan jika listrik mati.
penuh hikmat, dan do'a kecil 'semoga bapak dan ibu tidak suka marah-marah lagi' lilin berhasil ditiup dengan penuh keharuan dariku,mei-istriku dan aini.

ada pesan yang besar bagi aku dan mei sebagai orang tuanya. pemaknaan tiup lilin dalam sebuah acara ultah. acara perayaan ulang tahun dan tiup lilin memang bukan budaya yang islami, tetapi jika dimaknai secara bebas, aku menangkap pesan yang mendalam.

tiup lilin, setiap bertambah umur maka demikian pula jumlah lilin yang ditiup. 
dan acara klimak dari ultah adalah peniupan lilin yang sesuai dengan jumlah umur yang ultah.
berapapun lilinnya acara ultah harus diakhiri oleh peniupan lilin, dan riuh-riang kegembiraan setelah itu. 
jika lilin merupakan simbol umur kita, lalu apakah nantinya kita dapat mengakhiri 'meniup umur kita' dengan riang gembira.
amin, semoga kami ber-dua dapat memenuhi amanah titipan Allah dengan baek dan selalu mensabarkan diri kami dan aini untuk sadar bahwa 'lilin kehidupan' akan tertiup dan mati, dan semoga tercipta suasana gembira di saat terakhir itu dan berikutnya.
inna lillahi wa innna illahi rojiun

sd pekuncen

sd

anakku

anakku

tk

tk

aljanan

Saya seorang pengajar Teknik Mesin, yang mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari filosofi permesinan terutama masalah thermo-accoustic. harapan saya dengan membuka blog ini banyak ide yang bisa di-sharingkan dengan pembaca sekalian. Tidak hanya masalah teknik,tetapi juga masalah ilmu-ilmu lain yang dapat saling melengkapi.

hidayat

hidayat

dony

dony

aku

tentang aku