Oleh : Dony H. Al-Janan
![]() |
| Penulis |
Ilustrasi
Amin, seorang anak yang
waktu itu duduk di kelas 1, ditanya oleh gurunya tentang cita-citanya ,Amin
menjawab : ingin menjadi habibi supaya bisa membuat kapal terbang.
Waktu berlanjut ketika
Amin masuk kelas 1 smp, dengan pertanyaan yang sama, amin menjawab..aku ingin
menjadi polisi, supaya bisa mengangkap penjahat.
Masuk kelas 1 sma,
dengan pertanyaan yang sama pula, aku ingin masuk perguruan tinggi, dan menjadi
manusia yang bermanfaat.
Masuk semester 1
sebuah universitas, aku malu untuk mengutarakan cita-citaku.
Dan terakhir di
semester akhir, amin hanya punya 1 tujuan yaitu menyelesaikan skripsinya, tidak
tahu apa yang ia inginkan berikutnya. Harapan dia hanya 1, semoga dia dapat
mengaminkan apa yang terjadi padanya.
Semisal hidup
ini merupakan kerja yang kita lakukan untuk mencari uang, maka akan baik jika
terlebih dulu menrencanakan untuk apa uang yang kita dapatkan nanti? Sehingga ketika
kita bekerja bukan hanya tekonsentrasi untuk mencari uang, tetapi uang hanyalah
bagian untuk mencapai cita-cita kita yaitu kebahagian dunia dan akhirat.
Apa
itu cita-cita
Amin adalah contoh
kecil dalam kehidupan kita, mungkin saja dia adalah diri kita sendiri. Sering
kali kita menanyakan cita-cita, sering kali pula kita menganggap hal itu
hanyalah impian anak-anak belaka. Tersimpulkan bahwa seolah cita-cita hanyalah
angan-angan kosong tanpa tindak lanjut.
Cita-cita yang
berubah, tentunya hal lumprah terkait dengan perubahan, pengalaman, ilmu yang
kita miliki. Yang menjadi penting bukan cita-cita kita, tapi kesadaran kita
untuk memilih, menentukan cita-cita kita tentunya menuju kebahagian
dunia-akhirat.
Menggapai kebahagian,
adalah manusiawi. Dalam islam-pun hal itu tidak dilarang, malah harus diperjuangkan.
Yang menjadi permasalahan terkadang kita, sebagai orang islam enggan
mengungkapkan cita-cita kita, dengan alasan hal itu akan merubah ‘kiblat hati’
kita dari Allah swt, kepada keduniaan belaka???
Mengapa
cita-cita sering berubah?
Manusia akan dihadapkan
pada kompleksitas masalah yang berbeda. Waktu kita lahir, masalah kita hanyalah
bagaimana kita mendapatkan susu ibu, saat sekolah berkembang agar kita lulus
dengan baik, remaja- bagaimana mendapatkan kerja dan menjalin komitmen dengan
pasangan.
Perubahan inilah yang
menjadikan cita-cita kita sering berubah.
Buat
apa cita-cita
Cita-cita diperlukan
untuk mengarahkan hidup kita mencapai hal yang kita inginkan dengan efektif dan
efisien. Selaksa orang yang mengendarai sepeda ontel, jika potensi untuk mengayuh
ibarat jiwa dan sepeda adalah badan, jasadi kita ,yang diperlukan pertama kali
adalah tujuan. Jika kita mengendarai sepeda tanpa tujuan, apa yang terjadi????
Dapat terjadi sepeda itu jatuh karena kebingungan untuk mengarahkan haluan.
Bagaimana
mencapai cita-cita
Untuk mencapai
cita-cita memerlukan tahapan :
- Jujur dengan diri sendiri,
untuk menilai diri apa adanya
Melalui
refleksi, solat bagi orang Islam, kita berkaca pada diri sendiri :
Siapa
kita? How am I ?
Ini
adalah wujud rasa syukur kita, syukur berarti membuka,, membuka semua potensi
yang ada dalam diri kita dan keinginan untuk memanfatkan semaksimal mungkin.
Apa
kelebihan kita? strengh
Apa
kekurangan kita? Weaknes
Apa
peluang kita kita ? Opportunity
Apa
ancaman kita? Treath
- Menyusun rencana
Rencana
mulai disusun dari tahap akhir, sebagai muslim kita ingin mati masuk surga.
Tapi harus diingat bahwa kita selama hidup diberi titipan amanat ‘potensi yang
ada pada tubuh kita’ yang memerlukan makanan, minuman, dan juga perlu
dimanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh umat.
Dalam
konsep islam dikenal dengan kesejahteraan di dunia dan akhirat, bahagia dunia
akhirat. Sehingga kebahagian di dunia harus diupayakan dengan cara-cara yang
baik (agama), benar (sains), dan indah (seni) sehingga jika kita telah mengupayakannya
dengan maksimal, sebagai implikasi dari rasa syukur kita maka jika kita mati
nanti juga akan menuai kebahagiaan, bukan hanya karena cita-cita kita
diupayakan tetapi dengan itu kita juga mampu membahagiakan sekitar kita.
Rencana
disusun mulai dari akhir, kemudian bertahap menuju kepada saat yang kita alami
sekarang. Sehingga kita tidak lagi bingung tentang pada yang akan kita lakukan
detik ini.
Kegiatan
yang kita lakukan detik ini merupakan rangkaian perjalanan panjang yang harus
kita lewati untuk mencapai cita-cita kita bertahun-tahun kemudian.
Rencana
yang kita susun sudah sepatutnya disesuaikan dengan lingkungan, jika lingkungan
belum mendukung, maka perbaikan lingkungan perlu ada dalam agenda rencana kita,
tentunya sesuai dengan analisa SWOT yang kita lakukan.
- Lakukan evaluasi
Evaluasi
senantiasa kita perlukan untuk menampatkan garis cita-cita kita, selain itu
sebagai alat indikator langkah menuju cita-cita kita. Apakah cita-cita kita
masih layak untuk diperjuangkan? Dan bagaimana caranya?
- Bersabar dalam kesadaran
Bersabar,
bukan berarti diam, tetapi senantiasa bergerak dengan istiqomah menuju
cita-cita yang kita inginkan. Hal ini diperlukan kesadaran penuh, jangan sampai
cita-cita kita benar-benar mengendalikan kita sehingga kita sendiri tidak mampu
menikmati apa yang telah kita peroleh.
Do’a
vs cita-cita
Waktu kita solat,
berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan syarat-syaratnya. Mulai dari
wudlu, kebersihan tempat ibadah dan memandang ke arah kiblat.
Solat merupakan contoh
sinergissitas antara oryentasi fisik dan non fisik. Itu makanya dalam solat
kita masih memerlukan hal-hal fisik seperti bersuci, berdo’a menjalankan
gerakan solat.
Doa’ sangat perlukan
oleh orang yang mempunyai cita-cita. Karena do’a merupakan wujud keyakinan akan
keterbatasan diri, upaya untuk lebih mengerti akan jati diri dan akhirnya dapat
memanfaatkannnya dengan optimal. Proses pemanfaatan diri ini tidak dapat
berjalan dengan optimal tanpa proses pengenalan terhadap diri.
Bagaimana
esensi dari solat?
Solat jika mampu
dilakukan dalam keadaan berdiri, atau duduk, atau tidur, atau isyarat, atau
disolatkan. Jadi solat merupakan kewajiban fisik kita sebagai manussia yang
hidup hingga akhir hayat. Dari keserhanaan, dalam menjalankan solat ini
tersimpulkan bahwa gerakan bukan merupakan tujuan akhir dari sholat, tetapi
ketika minimal gerakan hati seorang hamba yang
dberupaya untuk mendekati Tuhannya, dan ‘meniru’ sifat-Nya sehingga
dapat mengakhiri proses pendekatan itu dengan melakukan salam, menebar
kesejahteraan, mengoptimalkan potensi yang telah diberikan untuk melakukan aksi
perbaikan terhadap diri dan lingkungan sekitarnya.
Penutup
Tak ada kata terlambat
untuk memulai suatu perbaikan diri. Mengutip dari AA Gym
Mulai dari diri
sendiri, mulai dari hal-hal kecil ,mulai sekarang.
Wallahu a’lam bissowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar