Jumat, 24 Februari 2017

Cita-Cita, antara impian dan kenyataan

Oleh : Dony H. Al-Janan
Penulis

Ilustrasi
Amin, seorang anak yang waktu itu duduk di kelas 1, ditanya oleh gurunya tentang cita-citanya ,Amin menjawab : ingin menjadi habibi supaya bisa membuat kapal terbang.
Waktu berlanjut ketika Amin masuk kelas 1 smp, dengan pertanyaan yang sama, amin menjawab..aku ingin menjadi polisi, supaya bisa mengangkap penjahat.
Masuk kelas 1 sma, dengan pertanyaan yang sama pula, aku ingin masuk perguruan tinggi, dan menjadi manusia yang bermanfaat.
Masuk semester 1 sebuah universitas, aku malu untuk mengutarakan cita-citaku.
Dan terakhir di semester akhir, amin hanya punya 1 tujuan yaitu menyelesaikan skripsinya, tidak tahu apa yang ia inginkan berikutnya. Harapan dia hanya 1, semoga dia dapat mengaminkan apa yang terjadi padanya.

Semisal hidup ini merupakan kerja yang kita lakukan untuk mencari uang, maka akan baik jika terlebih dulu menrencanakan untuk apa uang yang kita dapatkan nanti? Sehingga ketika kita bekerja bukan hanya tekonsentrasi untuk mencari uang, tetapi uang hanyalah bagian untuk mencapai cita-cita kita yaitu kebahagian dunia dan akhirat.

Apa itu cita-cita
Amin adalah contoh kecil dalam kehidupan kita, mungkin saja dia adalah diri kita sendiri. Sering kali kita menanyakan cita-cita, sering kali pula kita menganggap hal itu hanyalah impian anak-anak belaka. Tersimpulkan bahwa seolah cita-cita hanyalah angan-angan kosong tanpa tindak lanjut.
Cita-cita yang berubah, tentunya hal lumprah terkait dengan perubahan, pengalaman, ilmu yang kita miliki. Yang menjadi penting bukan cita-cita kita, tapi kesadaran kita untuk memilih, menentukan cita-cita kita tentunya menuju kebahagian dunia-akhirat.
Menggapai kebahagian, adalah manusiawi. Dalam islam-pun hal itu tidak dilarang, malah harus diperjuangkan. Yang menjadi permasalahan terkadang kita, sebagai orang islam enggan mengungkapkan cita-cita kita, dengan alasan hal itu akan merubah ‘kiblat hati’ kita dari Allah swt, kepada keduniaan belaka???

Mengapa cita-cita sering berubah?
Manusia akan dihadapkan pada kompleksitas masalah yang berbeda. Waktu kita lahir, masalah kita hanyalah bagaimana kita mendapatkan susu ibu, saat sekolah berkembang agar kita lulus dengan baik, remaja- bagaimana mendapatkan kerja dan menjalin komitmen dengan pasangan.
Perubahan inilah yang menjadikan cita-cita kita sering berubah.

Buat apa cita-cita
Cita-cita diperlukan untuk mengarahkan hidup kita mencapai hal yang kita inginkan dengan efektif dan efisien. Selaksa orang yang mengendarai sepeda ontel, jika potensi untuk mengayuh ibarat jiwa dan sepeda adalah badan, jasadi kita ,yang diperlukan pertama kali adalah tujuan. Jika kita mengendarai sepeda tanpa tujuan, apa yang terjadi???? Dapat terjadi sepeda itu jatuh karena kebingungan untuk mengarahkan haluan.

Bagaimana mencapai cita-cita
Untuk mencapai cita-cita memerlukan tahapan :
  1. Jujur dengan diri sendiri, untuk menilai diri apa adanya
Melalui refleksi, solat bagi orang Islam, kita berkaca pada diri sendiri :
Siapa kita? How am I ?
Ini adalah wujud rasa syukur kita, syukur berarti membuka,, membuka semua potensi yang ada dalam diri kita dan keinginan untuk memanfatkan semaksimal mungkin.

Apa kelebihan kita? strengh
Apa kekurangan kita? Weaknes
Apa peluang kita kita ? Opportunity
Apa ancaman kita? Treath
  1. Menyusun rencana
Rencana mulai disusun dari tahap akhir, sebagai muslim kita ingin mati masuk surga. Tapi harus diingat bahwa kita selama hidup diberi titipan amanat ‘potensi yang ada pada tubuh kita’ yang memerlukan makanan, minuman, dan juga perlu dimanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh umat.
Dalam konsep islam dikenal dengan kesejahteraan di dunia dan akhirat, bahagia dunia akhirat. Sehingga kebahagian di dunia harus diupayakan dengan cara-cara yang baik (agama), benar (sains), dan indah (seni) sehingga jika kita telah mengupayakannya dengan maksimal, sebagai implikasi dari rasa syukur kita maka jika kita mati nanti juga akan menuai kebahagiaan, bukan hanya karena cita-cita kita diupayakan tetapi dengan itu kita juga mampu membahagiakan sekitar kita.
Rencana disusun mulai dari akhir, kemudian bertahap menuju kepada saat yang kita alami sekarang. Sehingga kita tidak lagi bingung tentang pada yang akan kita lakukan detik ini.
Kegiatan yang kita lakukan detik ini merupakan rangkaian perjalanan panjang yang harus kita lewati untuk mencapai cita-cita kita bertahun-tahun kemudian.
Rencana yang kita susun sudah sepatutnya disesuaikan dengan lingkungan, jika lingkungan belum mendukung, maka perbaikan lingkungan perlu ada dalam agenda rencana kita, tentunya sesuai dengan analisa SWOT yang kita lakukan.
  1. Lakukan evaluasi
Evaluasi senantiasa kita perlukan untuk menampatkan garis cita-cita kita, selain itu sebagai alat indikator langkah menuju cita-cita kita. Apakah cita-cita kita masih layak untuk diperjuangkan? Dan bagaimana caranya?
  1. Bersabar dalam kesadaran
Bersabar, bukan berarti diam, tetapi senantiasa bergerak dengan istiqomah menuju cita-cita yang kita inginkan. Hal ini diperlukan kesadaran penuh, jangan sampai cita-cita kita benar-benar mengendalikan kita sehingga kita sendiri tidak mampu menikmati apa yang telah kita peroleh.

Do’a vs cita-cita
Waktu kita solat, berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan syarat-syaratnya. Mulai dari wudlu, kebersihan tempat ibadah dan memandang ke arah kiblat.
Solat merupakan contoh sinergissitas antara oryentasi fisik dan non fisik. Itu makanya dalam solat kita masih memerlukan hal-hal fisik seperti bersuci, berdo’a menjalankan gerakan solat.
Doa’ sangat perlukan oleh orang yang mempunyai cita-cita. Karena do’a merupakan wujud keyakinan akan keterbatasan diri, upaya untuk lebih mengerti akan jati diri dan akhirnya dapat memanfaatkannnya dengan optimal. Proses pemanfaatan diri ini tidak dapat berjalan dengan optimal tanpa proses pengenalan terhadap diri.



Bagaimana esensi dari solat?
Solat jika mampu dilakukan dalam keadaan berdiri, atau duduk, atau tidur, atau isyarat, atau disolatkan. Jadi solat merupakan kewajiban fisik kita sebagai manussia yang hidup hingga akhir hayat. Dari keserhanaan, dalam menjalankan solat ini tersimpulkan bahwa gerakan bukan merupakan tujuan akhir dari sholat, tetapi ketika minimal gerakan hati seorang hamba yang  dberupaya untuk mendekati Tuhannya, dan ‘meniru’ sifat-Nya sehingga dapat mengakhiri proses pendekatan itu dengan melakukan salam, menebar kesejahteraan, mengoptimalkan potensi yang telah diberikan untuk melakukan aksi perbaikan terhadap diri dan lingkungan sekitarnya.

Penutup
Tak ada kata terlambat untuk memulai suatu perbaikan diri. Mengutip dari AA Gym
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil ,mulai sekarang.


Wallahu a’lam bissowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar